Blitar Raya

Pohon Pisang di Tengah Jalan Rusak: Sindiran Telak Warga Blitar untuk Pemerintah Daerah

41
×

Pohon Pisang di Tengah Jalan Rusak: Sindiran Telak Warga Blitar untuk Pemerintah Daerah

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, BLITAR – Warga Dusun Salam, Desa Kedawung, Kabupaten Blitar, memilih cara yang tak biasa untuk menyuarakan kekecewaan mereka. Bukan dengan orasi panjang atau demonstrasi di kantor pemerintah, melainkan dengan menanam pohon pisang di tengah jalan rusak yang selama puluhan tahun tak kunjung diperbaiki.

Aksi ini bukan sekadar simbol, tetapi juga bentuk peringatan nyata. Lubang-lubang besar yang menganga di jalan tersebut kerap membahayakan pengguna jalan. Pohon pisang yang ditanam menjadi “rambu darurat” agar pengendara lebih waspada dan menghindari titik-titik rawan kecelakaan.

Menurut perwakilan warga, Slamet, jalan tersebut terakhir kali dibangun pada tahun 1992 melalui proyek Kelud. Sejak saat itu, tak ada perbaikan berarti dari pemerintah daerah.

“Selama ini masyarakat hanya bisa bergotong royong, menguruk jalan rusak dengan cara swadaya. Tapi kerusakan terus berulang,” ujarnya, Minggu(3/5/2026)

Kesabaran warga, kata Slamet, sebenarnya sudah diuji sejak lama. Rencana aksi protes ini bahkan sempat tertunda, sebelum akhirnya dilakukan sebagai bentuk luapan kekecewaan bersama.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Giono. Ia menegaskan bahwa kondisi jalan bukan hanya menghambat aktivitas sehari-hari, tetapi juga telah memicu berbagai kecelakaan.

“Negara sudah merdeka, tapi pembangunan belum merata,” ungkapnya dengan nada geram.

Fenomena “tanam pisang” di jalan rusak sejatinya bukan hal baru di Indonesia.

Aksi ini kerap menjadi simbol sindiran tajam terhadap lambannya respons pemerintah dalam menangani infrastruktur dasar. Namun di Kedawung, pesan itu terasa lebih keras: puluhan tahun tanpa perbaikan adalah bukti nyata adanya kesenjangan perhatian.

Warga berharap, aksi kreatif ini tidak berhenti sebagai viralitas sesaat. Mereka menuntut respons konkret—bukan janji—agar jalan yang menjadi urat nadi aktivitas ekonomi dan sosial itu segera diperbaiki.

Jika tidak, pohon pisang mungkin akan terus tumbuh. Bukan sebagai tanaman biasa, melainkan sebagai monumen diam atas kegagalan pelayanan publik.(didik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *